Skip to Content

Psikologi Islam diTitik Simpang

Posted in

Gagasan islamisasi ilmu merupakan proyek raksasa ambisius yang seringkali bernuansa romantisme ketimbang mencari hakikat keilmuan dan pandangan dunia khas tradisi islam. Disebut romantisme, karena dalam beberapa hal lebih mengedepankan semangat penegasan keislaman dari pada telaah kritis yang panjang dan akurat terhadap bidang-bidang keilmuan yang hendak diislamkan. Salah satunya, gagasan psikologi islam, yang sampai saat ini masih dalam perdebatan dan kontroversi yang tak habis-habisnya.

Psikologi, dalam definisi umum, adalah sebuah ilmu yang berusaha menggali dan mengenali struktur kedirian manusia. Sebelum era modern, psikologi adalah bagian dari filsafat yang spekulatif. Tak heran jika psikologi, sesuai kata aslinya, psyche dan logos, adalah ilmu mengenai jiwa. Karena, sehebat apa pun teori yang dibangun mengenai jiwa manusia, ia hanya akan tereduksi ke dalam penjara bahasa dan ketiadaan pengalaman mengenai apa itu jiwa. Ketika berusaha dibahasakan, tindak spekulasi adalah hal yang tak terhindarkan.
Wilhelm Wundt, adalah orang yang berjasa dalam merumuskan kembali psikologi sebagai ilmu yang empiris. Pendirian laboratorium psikologi di tahun 1879, adalah tonggak berdirinya psikologi modern, yang lepas bebas dari cengkeraman diskursif-filosofis. Di tangannya, psikologi berbicara mengenai fakta dan data. Sehingga penamaan psikologi, bukanlah lagi sebagai ilmu tentang jiwa, tapi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental atau psikis manusia.

***

Keberatan-keberatan para pembela psikologi agama, khususnya Islam, lebih terarah kepada tinjauan terhadap manusia, dari para psikolog modern, yang cenderung negatif. Psikoanalisa Freudian memandang kepribadian manusia dalam balutan dan jeratan trauma masa kecil, yakni manusia yang lebih dikendalikan oleh hasrat libidinal, juga terhadap behaviorisme yang menilai manusia hanya sebagai hasil bentukan stimulus-respon dari lingkungan luar, dan psikologi humanistik yang cenderung eksistensialis dan individual.
Dari segi definisi, bahwa psikologi modern memang berbicara mengenai mental, sehingga tidak patut dipersalahkan. Karena mental, atau ego manusia, adalah bentukan kemudian dari perkembangan kepribadian sesuai arah waktu. Mental, psikis atau ego, dapat dipastikan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal yang terus masuk dan menerpa kesadaran seseorang dalam rentang pengalaman hidupnya. Ia akan berisi hal-hal traumatik, harapan dan keinginan yang dipendam, atau pun obesesi yang ditanamkan.

Dari sinilah, pembedaan antara jiwa dan psikis adalah perkara penting. Tanpanya, kita akan terjebak dalam klaim-klaim yang saling bersikukuh, tapi sebenarnya objek bahasannya sama sekali berbeda. Jiwa (nafs dalam istilah islam) merupakan aspek batin dalam diri manusia, termasuk juga ruh. Karakter dari jiwa (nafs) adalah ingin kembali ke hadirat Tuhan, tapi selalu terhalang oleh kuatnya psikis yang berkarakter duniawi. Dari sini kemudian cerita transformasi diri adalah cerita mengenai pertarungan antara jiwa dan psikis, dalam memperebutkan kendali atas keseluruhan kepribadian manusia. Dalam tradisi tashawuf, upaya pembersihan jiwa dari gangguan-gangguan yang diakibatkan penyakit-penyakit psikis, dinamakan Tazkiyyatun Nafs. Sedangkan konsepsi mengenai ruh adalah perkara yang lebih tinggi lagi, lebih batin, sehingga dalam pembahasannya seringkali dibingkai dalam bentuk simbolisme, seperti kisah-kisah alegoris dalam khazanah sufi.

***
Pengetahuan mengenai aspek batin manusia termasuk dalam lingkup pengetahuan metafisika. Pengetahuan ini berdiri di atas fondasi paradigma atau pandangan dunia hierarkis. Yakni cara pandang terhadap realitas sebagai sesuatu yang bertingkat dan berjenjang dengan gradasi vertikal. Ini khas pandangan dunia dari tradisi spiritual dan agama. Konsekuensi dari tingkatan realitas yang bermuara pada diri manusia yang juga bertingkat, adalah adanya perangkat epsitemologis atau modus kecerdasan yang juga beragam tingkatannya. Pada kondisi inilah, pengetahuan metafisika, sebagai sebuah pengetahuan tentang realitas lebih tinggi, non-indrawi dan non-abstraksi, mesti dipahami dengan aspek kecerdasan diri yang lebih tinggi dan lebih batin.

Dalam bentangan waktu dan hamparan ruang, selalu hadir mereka yang disebut sebagai para figur terpilih yang membawa risalah mengenai pengetahuan metafisika. Keberadaan Tuhan, awal dan akhir kehidupan, berita setelah kematian, adalah contoh pengetahuan metafisika yang diwartakan oleh para figur terpilih ini, termasuk keberadaan aspek batin diri manusia. Sehingga apa yang disebut kitab suci adalah berisi pewartaan mengenai hal-hal tersebut di atas. Nah, tentunya, kitab suci bisa dipahami secara utuh andaikata kita memahaminya dengan totalitas, dengan segenap kecerdasan diri, yang lahir maupun batin.

Adalah betul jika manusia terlahir fithrah, karena pada dirinya ditanamkan perangkat atau kecerdasan batin yang lebih condong kepada pengetahuan ketuhanan. Tapi adalah benar juga, bahwa manusia kemudian terjatuh dan terlempar ke dunia, larut bersama kerumunan manusia lainnya, yang berakibat kepada semakin buramnya aspek batin dan semakin menguatnya dominasi psikis.
Para figur terpilih ini, selain memberikan pewartaan tentang hal-hal metafisika, juga membawa jalan tempuh guna memperoleh pengetahuan tersebut secara langsung, yakni apa yang dinamakan syariat agama (eksoteris maupun esoteris). Aplikasi praktis yang dibawanya, sebenarnya berfungsi utama sebagai transformator diri, untuk meraih kembali apa yang telah hilang, mengasah kembali sisi batin, kecerdasan spritual, agar bisa menggeser dan mengendalikan dominasi psikis yang sebelumnya berkuasa atas kepribadian manusia.

***
Proyek psikologi islami yang ramai-ramai dibangun oleh para cendikiawan muslim, sebenarnya mengandung beberapa potensi kekuatan sekaligus juga berorientasi melemahkan fondasi epistemologi keilmuan islam itu sendiri.
Potensi kekuatannya, terletak pada bahasan psikologi islami yang rujukannya terhadap Kitab suci (al-Qur’an) dan warta dari Nabi (hadits). Selain itu, psikologi islam juga merujuk kepada teks-teks para sufi, yakni mereka yang mengalami langsung transformasi dan pengalaman batin (jiwa/nafs dan ruh). Di sinilah terletak kekuatan psikologi islam, yang mengartikulasikan dan merekontekstualisi peta struktur diri dan peta perjalanan di wilayah batin.

Meski demikian, ada beberapa kesalahan mendasar konsep psikologi islami yang dibangun oleh beberapa cendekiawan muslim, yang berpotensi melemahkan apa yang menjadi fondasi ajaran (pengetahuan metafisika) khas islam, yaitu :

Pertama, adanya upaya agar konsep-konsep metafisis dalam struktur kedirian dalam Kitab Suci, dibuat menjadi sangat empiris dan rasional. Kita tahu bahwasannya, jiwa dan ruh merupakan wilayah metafisika, yang sama sekali bukan objek kajian pisau bedah sains empiris dan rasional. Umpamanya konsep ESQ dan SQ, yang melihat kecerdasan spiritual sebagai konstruksi dari bawah, semisal sebagai hasil aktivasi dari titik di dalam otak (God’s Spot) seperti yang diteorikan oleh Danah Zohar, ataupun kecerdasan spiritual yang dibangun secara emosional (ESQ), atau ada juga kecenderungan untuk membuat besaran nominal kecerdasan spiritual seseorang seperti halnya IQ.

Kedua, bahawa model teoretis struktur kedirian dari Barat-modern, seringkali ditolak oleh para pengagas psikologi islam. Padahal, model tersebut dalam beberapa segi, meski dalam perspektif yang terbatas, cukup representatif untuk menjelaskan fenomena psikis (mental) yang jarang atau pun tidak disentuh sama sekali dalam kitab suci, atau ajaran agama. Psikologi modern model Barat, yang objek bahasannya aspek mental atau psikis, sebenarnya sudah cukup mapan dan kokoh dalam bangun teoretis maupun konsep terapinya.
Sehingga perlu adanya langkah untuk meninjau kembali proyek psikologi islam, dan pertama kali dilakukan adalah menentukan batasan-batasan dan titik temu antara keduanya, psikologi islam maupun modern. Tanpa itu, konflik akan terus berlarut, dan masing-masing akan saling bersikukuh dengan klaimnya masing-masing.

Penulis :
Himawijaya (nama pena dari Deden Himawan)

Pernah dimuat di Surat Kabar Tempo