Ketika berinteraksi dengan birokrasi baik di pemerintahan ataupun di lingkungan IT. Saya selalu menemukan hal yang sama : pembicaraan yang high tech dan anggaran yang besar. Alasannya, bahwa belanja IT itu identik dengan kemewahan, prestisius, dan seringkali bernuansa politis.
Padahal ada kecenderungan baru belakangan ini yang lagi trend di MIT sana, yakni Low Tech Engineering. Penggagasnya adalah Prof. Smith.
Saya berpikiran, apa yang digagas beliau, sebenarnya sangat relevan dengan situasi negeri ini. Ambil contoh, untuk belanja IT dengan Sistem Operasi tertentu yang propietary, diperlukan anggaran sekian. Ini terjadi karena tidak ada isu performansi dalam hardware untuk sistem operasi ini. Padahal di dunia linux, para pengembangnya, akan sangat bangga, jika distro yang mereka bangun, semakin bisa dipakai dengan hardware terbatas. Misalnya, pada Open Suse terbaru (versi 11), kita bisa menikmati tampilan menawan grafis 3D hanya dengan RAM 512 saja.
Ada baiknnya kita menengok saran dari GURU Low Tech Engineering ini :
1. Cobalah dalam seminggu Anda mencoba hidup dengan $2 per hari.
2. Coba dengarkan orang yang tepat. Mengandalkan sekadar imajinaimu untuk memecahkan persoalan tidaklah cukup
3. Bekerja keras untuk menemukan solusi sederhana, seperti ungkapan Leonardo Da Vinci : “Simplicity is the ultimate sophistication”
4. Buatlah teknologi yang transparan, yang mudah dimengerti pengguna, dan berorientasi inovasi lokal
5. Buatlah sesuatu menjadi murah
6. Jika Anda ingin membuat murah 10 kalinya, maka buanglah bahan yang 90%
7. Beroreintasi skill, bukan sekadar teknologi yang paripurna.
(selengkapnya : http://www.star-tides.net/node/260)

