01. Aliran-aliran Psikologi
Abraham Maslow membagi aliran psikologi—yang juga menggambarkan babakan sejarah kehadirannya—ke dalam empat aliran besar. Pertama aliran psikoanalisis, kedua behavioral, ketiga humanistik, dan keempat psikologi transpersonal. Kendati sains empiris menjadi basis bagi psikologi modern, tapi pada kenyataannya perkembangan psikologi tidak dikendalikan oleh kaidah-kaidah saintifik. Perkembangan psikologi lebih lanjut, terutama pada paruh abad ke-20, kembali diwarnai oleh pemikiran filosofis yakni eksistensialisme dan fenomenologi. Bahkan beberapa tahun setelahnya, psikologi mulai mendapatkan pengaruh dari kebangkitan spiritualisme gaya baru. Inilah awal mula hadirnya psikologi aliran keempat: psikologi transpersonal.
Secara umum kehadiran psikologi dipicu oleh pertanyaan mengenai kesadaran atau pikiran manusia. Ada dua pandangan, terutama di abad sembilan belas, terhadap permasalahan ini. Pertama, psikologi fakultas yang beranggapan bahwa manusia memiliki mental bawaan. Menurut teori ini, pikiran memiliki beberapa fakultas atau badan mental yang independen. Mazhab behaviorisme termasuk ke dalam kelompok ini. Kelompok kedua bernaung dalam psikologi asosiasi, yang justru memiliki anggapan yang berlawanan. Mereka menyangkal adanya fakultas bawaan, dan sebagai gantinya mereka menawarkan konsep asosiasi ide, yaitu ide yang masuk melalui alat indera dan kemudian oleh pikiran diasosiasikan melalui prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras, dan kedekatan.
Menjelang akhir abad ke sembilan belas, perkembangan ilmu pengetahuan dalam kerangka paradigma newtonian-cartesian mengalami puncaknya. Keberhasilan bidang fisika, kimia dan biologi dalam menganalisis senyawa kompleks dalam satuan-satuan kecil atau unsur pembentuknya telah mendorong para psikolog untuk juga menemukan elemen atau unsur pembentuk mental. Eksperimen yang dilakukan Wundt terhadap sensasi adalah dengan pendekatan metode analisis semacam ini. Karenanya E.B. Titchener, seorang psikolog Amerika hasil didikan Wundt memperkenalkan istilah strukturalisme, yakni pendekatan psikologi yang dilakukan untuk menentukan struktur mental.
Di Amerika sendiri, ada seorang filsuf sekaligus seorang psikolog yang dengan gigih menentang pendekatan analitikal strukturalisme. Ia adalah William James, seorang lulusan Harvard University, dan penggagas pragmatisme dalam filsafat. James beranggapan seharusnya psikologi memberikan penekanan yang besar pada pemahaman karakter personal manusia yang cair dan mengalir. Minat utamanya adalah meneliti bagaimana pikiran bekerja, sehingga organisme dapat beradaptasi terhadap lingkungannya. Karenanya, pertanyaan yang diajukan James adalah bagaimamana agar pikiran atau kesadaran bekerja, sehingga organisme dapat beradaptasi terhadap lingkungannya. Inilah sebab pendekatannya disebut sebagai fungsionalisme.
Apa yang dikemukakan oleh James mencirikan pengaruh kuat dari teori evolusi Darwin, terutama tentang seleksi alam. Untuk mengetahui bagaimana organisme beradaptasi dengan lingkungannya, pendukung fungsionalis berpendapat bahwa data yang berasal dari introspeksi harus dilengkapi dengan observasi perilaku aktual, termasuk penelitian perilaku hewan dan perkembangan perilaku atau psikologi perkembangan. Di sinilah fungsionalisme melihat bahwasanya perilaku manusia merupakan variabel yang bergantung kepada banyak faktor lainnya.
Strukturalisme dan fungsionalisme memiliki peran penting bagi perkembangan psikologi pada tahapan awal. Memasuki awal abad 20, aliran psikologi strukturalisme dan fungsionalisme tergantikan oleh aliran baru: psikologi gestalt, behaviorisme dan psikoanalisis.
Kita bahas sepintas tentang psikologi gestalt yang lahir di Jerman pada tahun 1912, dengan tokohnya Max Wertheimer. Istilah gestalt berasal dari bahasa Jerman, yang bermakna bentuk atau konfigurasi. Aliran ini beranggapan bahwa organisme hidup memahami segala sesuatu bukan dalam pengertian elemen-elemen terpisah melainkan dalam pengertian gestalten, yaitu sebagai suatu kesatuan bermakna di mana kualitas-kualitasnya tidak ada dalam bagian individualnya.
Eksperimen gestalt pertama mempelajari persepsi gerakan, yakni fenomena phi. Dua cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan lokasinya tepat), subjek melihat cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tapi ahli psikologi gestalt menangkap pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli daripada organisasi pengalaman. Apa yang dilihat adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terdiri dari bagian dari suatu hubungan.
02. Mazhab Behavioristik, Psikonalisis dan Humanistik
Semenjak Wundt mentasbihkan psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri, beragam reaksi sekaligus pengayaan terhadap ilmu ini mulai bermunculan. Secara hampir bersamaan, di Amerika berdiri aliran behaviourisme, di negeri Jerman sendiri muncul psikologi gestalt, dan di Wina, dengan tokohnya Sigmund Freud, berdiri psikoanalisa. Apa yang menjadi pemicu timbulnya aliran-aliran psikologi tersebut di atas, setidaknya memperlihatkan kondisi sosial masyarakat kala itu.
Behaviorisme didirikan oleh John B. Watson, dengan garis besar teori bahwa hampir semua perilaku manusia merupakan hasil dari pengondisian, dan lingkunganlah yang membentuk perilaku manusia dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Fenomena mental manusia dalam pandangan behaviorisme, bermula dari stimulus dan menghasilkan respon, hingga disebut dengan psikologi stimulus-respon (S-R). Manusia dalam pandangan aliran ini dianggap seperti sebuah kertas kosong (tabula rasa, meminjam konsep John Locke) yang siap diisi dan ditulisi apa pun. Kondisi lingkungan adalah faktor utama yang membentuk dan mengarahkan kepribadian manusia tersebut.
Untuk tujuan-tujuan pembentukan kepribadian, para tokoh aliran ini mencoba mengubah kondisi lingkungan. Misalnya salah seorang pionirnya adalah Ivan Pavlov, dengan konsep pengondisian (conditioning), serta hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Dalam pandangan Pavlov—dan para behavioris lainnya—manusia (seorang anak) dianggap memikiki kesadaran yang tidak berbeda dengan binatang. Hingga perlakuan dan percobaan terrhadap binatang, akan digeneralisasi kepada manusia. Misalnya dalam salah satu pecobaannya terhadap seekor anjing yang diikat pada tempat yang kedap suara dan kedap bau. Pada suatu waktu, sebuah bel dibunyikan sebelum anjing tersebut disodorkan makanan. Dan setiap kali bel berbunyi, si anjing tersebut meresponnya dengan mengeluarkan air liur. Suara bel adalah suatu stimulus (S) yang direspon oleh si anjing dengan mengeluarkan air liur (R). Begitu pun dengan tindakan manusia, diatur oleh sejauh proses stimulus dan respon tersebut
Generasi selanjutnya adalah psikoanalisis, dengan pelopornya Sigmund Freud, disebut juga sebagai psikologi dalam (depth psychology). Jasa terbesar Freud dalam psikologi setidaknya dengan ditemukannya alam bawah sadar, atau ketidaksadaran (unconsciouness) sebagai komponen terpenting dalam membentuk kepribadian manusia. Jika sebelumnya fenomena psikis dilihat dari kacamata tampilan luar yang kasat mata, maka Freud justru melihat dinamika terbesar dari psikis manusia berada jauh di alam bawah sadar. Struktur kepribadian seperti fenomena gunung es, di bawah permukaan yakni alam bawah sadar, bercokol dua komponen psikis, yaitu Id sebagai reservoir energi psikis yang hanya memikirkan kesenangan, berisi libido atau daya-daya insting seksual, dan juga berdiam superego: reservoir kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya. Sedangkan di puncak gunung es yang merupakan wilayah realitas alam sadar, ada ego yang berfungsi sebagai pengadaptasi antara alam bawah sadar dengan alam sadar. Maka sepanjang hidupnya, manusia mengalami pertarungan antara id dan superego dalam memperebutkan kendali diri yang diwakili oleh ego.
Landasan teori kepribadian yang terlampau memandang alam bawah sadar manusia dari kacamata kegelapan yang hanya berisi hasrat-hasrat hewaniah diwakili oleh psikoanalisa, serta behaviorisme yang memandang manusia bersifat netral di mana lingkunganlah yang berperan banyak dalam membentuk manusia apakah berkepribadian baik atau buruk, merangsang beberapa ahli untuk merumuskan teori kepribadian yang lebih positif, melihat bahwasanya pada dasarnya manusia itu adalah baik. Hadirlah psikologi humanistik, yang oleh pendirinya Abraham Maslow disebut sebagai psikologi generasi ketiga.
Abraham Maslow, tokoh dan pendiri psikologi humanistik, tadinya mengikuti para psikolog Amerika sebelumnya, menganut behaviorisme. Tapi perkenalannya dengan beberapa tokoh psikologi Eropa, membuat ia lantas meninggalkan behaviorisme dan mulai menyusun teori psikologinya sendiri. Teori yang dikemukakan oleh Maslow dikenal dengan teori hierarki kebutuhan, di mana ia merumuskan tipe-tipe kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.
Struktur kebutuhan manusia mirip piramid yang bertingkat. Di level paling bawah atau kebutuhan paling dasar manusia, terletak kebutuhan fisiologis, yakni kebutuhan makanan, tempat tinggal, pakaian dan lain-lain kebutuhan yang sifatnya sangat menunjang kelangsungan hidup individu. Pada lapisan kedua, setelah kebutuhan dasar dirinya terpenuhi, manusia berusaha untuk mengatasi rasa cemas dan takutnya dengan memenuhi kebutuhan akan rasa aman. Bentuk pemenuhan di lapis kedua ini misalnya mencari lingkungan yang aman, perencanaan masa depan: asuransi, investasi dll. Pada lapisan ketiga, yang dipenuhi adalah hasrat untuk berhubungan dengan sesamanya, yang disebut kebutuhan untuk mengasihi dan memiliki. Di lapisan keempat bentuk kebutuhan yang harus dipenuhi berupa penghargaan dari orang lain, status sosial, dan reputasi diri.
Keempat lapis kebutuhan ini disebut Deficit-Needs (D-Needs), menurut Maslow berlaku hukum Homeostatis: andai kebutuhan ini sudah terpenuhi, maka tuntutannya pun selesai. Jika manusia merasa lapar, ia perlu makan, dan sampai batas tertentu jika sudah dipenuhi, rasa laparnya hilang seiring tidak adanya lagi tuntutan makan.
Setalah semua tuntutan Deficit Needs telah dipenuhi, manusia mulai membutuhkan jenis kebutuhan lain yang sifatnya berlainan sama sekali dengan D-Needs. Maslow menyebutnya sebagai kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan ini sifatnya lebih personal dan spiritual. Pada pemenuhan kebutuhan di level ini, manusia akan mengalami semacam peak experience, atau pengalaman puncak
Kebutuhan aktualisasi diri ini sangat berbeda dengan D-Needs, dan Maslow menyebutnya dengan Being Needs (B-Needs). Pada B-Needs tidak berlaku hukum homeostatis, saat dipenuhi, tuntutan dari kebutuhan ini tidak akan pernah selesai, malah semakin kuat. Sehingga pada orang-orang yang katakanlah ideal dalam pandangan Maslow, akan mengalami pengalaman puncak berkali-kali, dengan intensitas yang makin kuat dan lama. Begitu panjangnya proses untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri, hanya sedikit sekali orang bisa mencapainya, Maslow memperkirakan hanya 2 % saja dari keseluruhan umat manusia.
Tapi bagaimanapun, aktualisasi diri merupakan sebuah kebutuhan. Tidak terpenuhinya jenis kebutuhan ini akan berdampak terhadap kepribadian. Maslow menyebutnya sebagai metaphologies, suatu penyakit psikis dengan gejala-gejala merasa asing (alienasi), putus harapan, sinis, kebingungan dan depresi. Gambaran peradaban Barat adalah contoh tepat dari bagaimana walau telah dipenuhinya kebutuhan D-Needs, tapi kebanyakan orang masih mempunyai problem dengan metapatologis sebagai dampak masih ada kebutuhan aktualisasi diri yang belum terpenuhi. Di barisan psikologi humanistik ini ada seorang Viktor Frankl dengan logoterapi-nya, George Kelly dan Carl Rogers.
03 Mazhab Transpersonal
Di penghujung tahun 1960-an dan permulaan tahun 1970-an pintu-pintu gerbang antara Barat dan Timur mulai terbuka lebar. Beragam tradisi dan budaya Timur yang eksotis mulai mendapat perhatian orang-orang Barat, yang sedang mengalami kejenuhan dan rasa frustasi yang mendalam. Krisis-krisis kemanusiaan yang melanda dunia Barat ini, kemudian dicoba dicari akar masalahnya, dan sebagian menuduh arah atau orientasi peradaban yang terlampau materialislah yang menjadi penyebabnya. Alih-alih menggali akar tradisi spritualnya sendiri—yakni tradisi Judeo-Kristiani—mereka malah ramai-ramai menoleh ke belahan Timur, terutama negeri India demi memuaskan dahaga spiritualnya.
Agama dan filsafat India, memang menawarkan kekayaan yang luar biasa. Di negeri ini, Tradisi filsafat India yang kaya, telah melahirkan spektrum aliran filsafat, mulai dari materialisme ekstrim—seperti halnya ajaran Rsi Ajagara—sampai dengan idealisme ekstrem, dari monisme absolut—kemudian dualisme—hingga pluralisme. Tradisi filsafat india ini menawarkan beragam pendekatan yang canggih terhadap struktur kedirian manusia, meski kadang tampak saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Tradisi-tradisi Timur ini, mulai dari tradisi Vedanta, Yoga, Buddhisme, dan Taoisme lebih menyerupai psikoterapi daripada suatu agama dan filsafat. Ini dikarenakan penekanan yang kental terhadap pengaturan aspek-aspek fisik dan psikis dari tradisi Timur dalam transformasi kesadaran manusia.
Kebangkitan spiritualisme baru atau New Age di Barat, tidak hanya mengantarkan orang-orangnya pada tradisi Timur jauh yang eksotis, tapi juga tradisi kesukuan lainnya atau tribalisme, semacam tradisi Amerika asli (Indian). Orang-orang Barat, terutama generasi mudanya mulai melakukan gerakan kontra kultural, yang melahirkan flower generation. Mereka hidup dan berperilaku seperti suku-suku primitif, kadang dengan sengaja, berkelompok pergi ke daerah-daerah pinggiran dan hutan dengan berpakaian seadanya, dan nyaris telanjang. Imbas dari gerakan ini, juga mengantarkan banyak generasi muda Amerika kepada pengalaman-pengalaman trance, melalui tarian dan nyanyian serta obat-obatan psikedelik semacam morfin, LSD, mari¬yuana dan ganja.
Ini adalah sekelumit kisah, bagaimana terjadinya sebuah perubahan kesadaran :
“Selama beberapa bulan setelah aku menggunakan LSD untuk pertama kalinya, aku yakin telah menemukan rahasia alam semesta. Aku juga reinkarnasi dari sekaligus Buddha dan Kristus. Kitab suciku setebal 47 halaman, hasil diskusiku dengan arwah orang-orang suci, kuharapkan bisa mempersatukan bangsa-bangsa seluruh dunia dalam proyek membangun masyarakat baru.”
Cerita di atas adalah pengalaman David Lukoff, tatakala dirinya bersentuhan dengan kesadaran di luar kebiasaan, saat mengalami trance akibat pengaruh LSD. Dia bersama Francis Lu dan Robert Turner kemudian memelopori sebuah gerakan baru dalam bidang psikiatri, yang melihat psikosis tidak hanya dari perspektif biomedis semata. Mereka berusaha memahami jiwa manusia dengan membuka diri pada pengalaman spiritual. Memang ada banyak cerita mengenai bagaimana kuatnya intensitas pengalaman dari seseorang yang terpengaruh obat-obatan tersebut. Sehingga mereka merasa yakin benar, vonis psikosis menurut aliran psikologi saat itu, tidaklah benar.
Pengalaman spritual yang dalam psikonalisa dianggap sebagai pengalaman masa kecil yang traumatis, terutama pengaruh ibu yang menderita kecemasan. Orang dikatakan gila karena represi pengalaman traumatis tersebut dalam alam tak sadarnya. Sehingga beberapa pelopor gerakan New Age, menolak pendekatan psikonalisa dan pendekatan lain yang memandang rendah dan negatif pengalaman-pengalaman spiritual, sebagai akibat perubahan kondisi kesadaran (Altered States of Consciousness). Mereka mendesak diakuinya angkatan keempat dalam bidang psikologi, yakni transpersonal.
Istilah transpersonal sendiri pertama kalinya dipakai oleh Carl Gustav Jung dalam bahasa Jerman, yakni “uberpersnolich” (transpersonal) yang artinya kurang lebih sama dengan collective unconscious. Yakni bentuk ketidaksadaran kolektif yang dimiliki oleh semua orang dari berbagai ras yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam ketidaksadaran kolektif terdapat ribuan arketif, seperti ide tentang Tuhan, anima, animus, arketif Diri dll, yang beberapa di antaranya berkaitan dengan pengalaman-pengalaman spiritual.
Psikologi transpersonal sebagai kekuatan atau mazhab keempat dalam bidang psikologi itu sendiri dideklarasikan oleh Abraham Maslow. Di tahun 1968, ia mengatakan, “Saya melihat, psikologi humanistik sebagai angkatan ketiga psikologi sedang mengalami transisi, sedang mengalami persiapan menuju psikologi angakatan keempat yang lebih tinggi, transpersonal, transhuman, yang lebih berpusat kepada kosmos dari pada terhadap kebutuhan manusia, melewati kemanusiaan, identitas, aktualisasi diri dan semacamnya.” Maslow menemukan bahwa aktualisasi diri pada beberapa orang memiliki frekuensi puncak atau transendensi, dan pada beberapa orang lagi tidak. Ini menegaskan suatu perbedaaan antara aktualisasi diri dan transendensi diri. Inilah alasaan mengapa ada suatu pergerakan dari psikologi humanistik ke psikologi transpersonal. Ada dua buku Maslow yang membahas masalah ini, yakni Toward a Psychologhy of Being (1968) dan The Farther Reaches of Human Nature (1971).
Gagasan dasar dari psikologi transpersonal adalah dengan mencoba melihat manusia selaras pandangan religius, yakni sebagai makhluk yang memiliki potensi spiritual. Jika psikoanalisis melihat manusia sebagai sosok negatif yang dijejali oleh pengalaman traumatis masa kecil, behaviorisme melihat manusia layaknya binatang, humanistik bepijak atas pandangan manusia yang sehat secara mental, maka psikologi transpersonal melihat semua manusia memiliki aspek spiritual, yang bersifat ketuhanan.
Ada sekian banyak definisi yang diajukan untuk psikologi transpersonal ini. Secara etimologi, transpersonal sendiri berakar dari kata trans dan personal. Trans artinya di atas (beyond, over) dan personal adalah diri. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa transpersonal membahas atau mengkaji pengalaman di luar atau batas diri, seperti halnya pengalaman-pengalaman spiritual. Di tahun 1992, setelah melakukan penelahan atas kurang lebih 40 definisi, maka Lajoie dan Saphiro, dua orang pionir utama psikologi transpersonal, merangkum dan merumuskan pengertian psikologi transpersonal yang lebih sesuai untuk kondisi saat ini:
Transpersonal psychology is concerned with the study of humanity’s highest potential, and with the recognition, understanding, and realization of unitive, spiritual, and transcendent states of consciousness.
Psikologi transpersonal mempunyai perhatian terhadap studi potensial tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan, spiritual dan transenden.
Transformasi kesadaran merupakan tinjauan pokok dari psikologi transpersonal, yakni studi mengenai pengalaman-pengalaman yang mendalam, perasaan keterhubungan dengan pusat kesadaran semesta, dan penyatuan dengan alam. Ada kesepakatan umum dari para tokoh cabang psikologi ini, untuk tidak mengidentikkan mazhab ini dengan keagamaan secara formal. Psikologi transpersonal bukanlah agama, bukan ideologi, bukan juga metafisika dan bahkan bukan New Age (seperti praktik aura, crsytal, aromatherapy, kajian UFO, dll) meskipun ada sedikit irisan dengannya.
Tapi definisi ini tidak mengakomodasi kepentingan orang-orang yang berhubungan dan mengklaim diri sebagai pengikut mazhab transpersonal, sehingga mau tidak mau kita harus membagi mazhab transpersonal ini juga dalam empat cabang. Kelompok pertama adalah kelompok mistis-magis. Menurut kelompok ini kesadaran transpersonal bersesuaian dengan kesadaran para dukun dan shaman masa lalu. Pandangan ini dianut oleh para aktivis New Age, dan salah satunya gerakan teosofi yang dipimpin oleh Helena Blavatsky. Seringkali romantisme dari kelompok ini menyulitkannya untuk berinteraksi dengan arus utama psikologi.
Kelompok kedua adalah kelompok tingkat kesadaran alternatif yang biasanya menolak konsep-konsep perkembangan, tahap-tahap dan praktik peningkatan kesadaran. Mereka lebih suka meneliti keadaan kesadaran sementara secara psiko-fisiologis dengan memelajari keadaan-keadaan fisik seseorang yang berada dalam keadaan transpersonal. Kelompok ini bersama kelompok ekoprimitivisme menganjurkan penggunaan media (seperti zat-zat kimia atau psikotropika) untuk pencapaian keasadaran transpersonal. Tokoh yang cukup penting dalam kelompok ini adalah Stanislav Grof yang menggunakan LSD untuk psikoterapinya. Setelah penggunaan LSD dilarang pemerintah, Grof kemudian menggunakan teknik pernapasan (pranayama) dari tradisi Timur, yang disebutnya sebagai Holotrophic Breathwork.
Kelompok ketiga, kelompok transpersonalis posmodern. Mereka menganggap keasadaran transpersonal, sebenarnya merupakan keadaan yang biasa. Kita, manusia modern, menganggapnya seolah luar biasa, karena kita membuang kondisi kesadaran seperti ini. Kelompok ini menerima kisah-kisah para dukun shamanisme dan mistikus dalam semangat relativisme pluralistik. Mereka justru mengecam filsafat perennial yang mengungkapkan pengalaman mistik sebagai totaliter dan fasistik karena mengagungkan hierarki.
Kelompok psikologi transpersonal yang keempat adalah kelompok integral. Kelompok ini menerima hampir semua fenomena kesadaran yang diteliti oleh ketiga kelompok tadi. Yang berbeda, kelompok ini juga menerima konsep-konsep psikologi transpersonal dari aliran pramodern dan posmodern. Salah seorang tokohnya adalah Ken Wilber, yang nanti akan dibahas pada bab khusus. Kelompok pertama, kedua dan ketiga merupakan kelompok yang berada--bahkan bersebarangan--dengan agama formal. Helena Blavastky, yang berada pada kelompok yang pertama, misalnya, mengharuskan para anggotanya untuk tidak memiliki kecenderungan kepada agama tertentu.
04 Psikoterapi dalam Transpersonal
Psikoterapi mempunyai pengertian terapi yang diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan mental dan emosi, yang dilakukan dengan instrumen psikologi. Tentu saja terapi yang diberikan mempunyai banyak variasi, dengan menginduk kepada teori psikologi tertentu. Ambil contoh untuk psikoterapi analitis, sejenis terapi yang diberikan yang merujuk kepada teori psikoanalisa. Dalam pandangan psikoanalisa, gangguan kepribadian atau mental terjadi karena setiap orang memiliki semacam mekanisme pertahanan diri. Salah satu mekanisme tersebut ialah represi, yakni membawa ke pikiran bawah sadar (unconsciousness) berbagai pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan dan traumatis. Inilah yang menyebabkan gangguan kepribadian. Seorang ahli psikoterapi, jika merujuk teori ini, akan berusaha mengangkat kembali ke alam sadar, trauma dan pengalaman yang direpresi ke bawah sadar. Terapi seperti ini dinamakan asosiasi bebas. Si pasien di buat relaks, terkadang dihipnotis, dan dibiarkan bicara segala hal yang ada di pikirannya. Dari ucapan-ucapannya tersebut, seorang terapis akan menentukan motif-motif bawah sadarnya.
Sedangkan psikoterapis behavioral, di mana gangguan mental disebabkan kegagalan dalam merespon stimulus dari lingkungan sekitarnya. Terapi yang diberikan adalah dengan memberikan pengondisian ulang respon-respon pasien terhadap suatu stimulus, agar menjadi lebih efektif dan rasional. Ini dilakukan dengan memberikan penghargaan atas suatu respon tertentu, dan memberikan hukuman atas respon lainnya, sehingga si pasien diarahkan pada kondisi respon yang tepat.
Terapi yang lebih positif, yang berorientasi kepada klien (pasien) diberikan oleh psikoterapi dari aliran humanistik. Seorang terapis adalah orang yang membantu pasien agar lebih mengenali, memahami dan mengerti keadaannya sendiri. Klien dibiarkan mencari dan menggali problemnya, sedangkan fungsi seorang terapis hanya berupaya menciptakan suasana yang mendukung pasien dalam menjalankan penggalian masalahnya sendiri. Selain itu, ada juga psikoterapi gestalt, psikoterapi grup, psikoterapi realitas dll, yang dikembangkan para psikolog belakangan. Tentu saja pertanyaannya kemudian, psikoterapi apa yang disodorkan oleh para tokoh psikologi transpersonal dalam menerapi para pasien gangguan psikis.
Landasan psikoterapi transpersonal adalah bagaimana memandang klien sebagai mahluk yang mempunyai potensi kesadaran spiritual, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan semesta. Dalam tataran praktisnya, proses gangguan mental, lebih diakibatkan faktor internal dalam dirinya yang tidak bisa menempatkan diri dalam bagian keseluruhan tersebut. Dalam beberapa metode, jenis terapi yang diberikan ada beberapa kesamaan dengan psikoterapi humanistik.
Konsep bahwa manusia menerapkan bagian yang tak terpisahkan dari semesta secara keselutuhan, sangat kuat dalam pandangan mistik Timur. Dalam agama hindu, kita mengenal konsep Hiranyagarbha, sebagai pikiran universal yang menjadi basis penciptaan dunia. Sehingga dengan mencoba menghubungkan dan menjernihkan pikiran kita dalam pikiran Brahman, dengan sendirinya potensi spiritual kita akan tergali.
Dengan kata lain, jika dalam psikologi modern, terapi yang diberikan akan bersinggungan dengan biomedis, dalam psikologi transpersonal, terapi yang dikembangkan akan berhubungan dengan ritual-ritual yang dijalankan dalam tradisi-tradisi keagamaan. Cara pandang yang holistik, terutama dari mistik Timur, pada akhirnya membawa siginifikansi akan adanya pengaruh yang sangat kuat antara tubuh, pikiran dan jiwa. Apa yang memanifetasi dalam tubuh fisik, sebenarnya gambaran keadaan tubuh mentalnya. Demikian juga sebaliknya, gangguan fisik yang terjadi seringkali memengaruhi kondisi mental seseorang.
Dari sini kemudian penurunan lebih lanjut dari terapi dalam psikologi transpersonal adalah bagaimana agar si pasien bisa menyadari kondisi dirinya sendiri, kondisi pikiran dan tubuhnya. Langkah penyadaran diri ini ditempuh dengan pertama kali seorang klien mengidentifikasi proses dan mekanisme di dalam tubunya secara sadar. Terapi seperti ini dinamakan biofeedback. Pada daerah-daerah tertentu dipasang sensor elektronik, misalnya pada otot-otot tubuh. Sinyal elektronik ini diamplikasi menjadi bunyi atau nyala lampu, sehingga klien bisa melihat dan mendengar perubahan-perubahan yang terjadi, baik dalam kondisi normal ataupun abnormal, manakala ia memberikan semacam perubahan dalam proses fisiologi internal dirinya. Dalam beberapa penelitian, terbukti biofeedback sangat efektif untuk tujuan relaksasi tubuh. Menurunkan tingkat stress, dan gangguan-ganguan psikosomatis. Jantung berdebar, napas tidak teratur, tekanan darah tinggi adalah jenis-jensi penyakit psikosomatis yang berhasil disembuhkan dengan terapi ini.
Jenis terapi lainnya dengan tujuan yang sama, untuk relaksasi, ialah meditasi. Tentunya ada beberapa tingkatan meditasi, mulai dari hanya mengatur irama napas, sampai kepada meditasi tingkat tinggi yang membuka kesadaran-kesadaran di luar kondisi normal (altered states of consciousness). Ada juga terapi medan energi, seperti chikung, chkara, aura, yang merupakan badan energi atau benda mental yang juga sekaligus menggambarkan kondisi kesehatan mental seseorang.
Biofeedback dan meditasi adalah jenis-jenis psikoterapi yang sangat umum dipakai oleh para ahli psikologi transpersonal. Tapi ada kecenderungan belakangan ini, terapi yang dipakai sudah agak meluas. Misalnya di Anand Ashram, selain meditasi dan yoga, juga dibarengi dengan terapi menggunakan musik, terutama musik-musik religius, wangi-wangian (aromaterapi) dan visualisasi. Bahkan lebih jauh lagi, teknik-tenik yang biasa digunakan oleh para mistikus dari agama-agama lainnya, juga digunakan untuk terapi mental, seperti zikir, bacaan Kitab Suci, mantra, doa dll.
05 Tokoh-tokoh Psikologi Transpersonal
Hampir semua tokoh-tokoh dari psikologi aliran ini, berusaha sedapat mungkin memberikan arti bernuansa spiritual terhadap kata psikologi. Mereka seringkali merujuk kepada akar katanya, yakni psyche. Jika definisi modern mengarah kepada proses mental, maka definisi awal psyche sebenarnya adalah napas kehidupan, ekuivalen dengan makna soul, atau jiwa.
Sigmund Freud dipandang sebagai pelopor ke arah psikologi transpersonal atas jasanya memetakan ketidaksadaran sebagai komponen penting kepribadian manusia. Tiga puluh tahun sebelum Freud menyusun teorinya, tepatnya di tahun 1869, von Hartmann menerbitkan buku Philosophy of The Unconscious. Dalam buku tersebut ia menjelaskan filsafat Schopenhauer, di mana Schopenhauer sendiri secara eksplisit mengambil konsep tersebut dalam khazanah mistik Timur : Buddha dan Upanishad. Dijelaskannya bahwa di bawah kesadaran individu terletak kesadaran kosmis, yang dalam sebagian besar orang masih dalam bentuk ketidaksadaran, yang bisa dibangkitkan. Dengan membuat ketidaksadaran ini menjadi sadar, seseorang tersebut akan menjadi sosok hebat. Sedangkan Freud sendiri mengambil konsep Id dari buku George Groddeck, The Book of the It, yang mengambil konsep eksistensi Tao Kosmos atau Ruh (spirit) Universal.
Apa yang dirintis Freud saat itu, setidaknya membuka jalan bagi suatu pandangan bahwa apa yang nampak dalam perilaku manusia, sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kepribadian. Manusia tetaplah memiliki aspek yang tersembunyi dalam dirinya, yang justru sebagian besar perilaku yang nampak hanyalah manifestasi dari apa yang tidak nampak, yang disebut sebagai ketidaksadaran. Meskipun Freud menempatkan hal-hal yang negatif bagi konstruksi ketidaksadaran, tapi ia berhasil membuka jalan bagi penerusnya—dalam hal ini Jung—untuk menempatkan aspek spiritual terhadap ketidaksadaran manusia.
Berikut ini adalah tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi pembentukan angkatan psikologi yang keempat : psikologi transpersonal.
William James
Ia lebih dikenal sebagai penggagas pragmatisme dalam filsafat. Seperti halnya behaviorisme dalam psikologi yang lebih cocok dengan semangat Amerika, demikian juga dengan pragmatisme, yang mewakili pandangan metafisika Amerika. William James dengan pragmatismenya benar-benar memberikan sumbangan yang orisinil bagi dunia filsafat. Istilah pragmatisme sendiri berasal dari bahasa Yunani, pragma, yang berarti tindakan. Maka pragmatisme diartikan sebagai filsafat tentang tindakan. Ini berarti bahwa pragmatisme bukan merupakan sistem filosofis yang siap pakai yang sekaligus memberikan jawaban terakhir seputar problem filosofis. Pragmatisme hanya berusaha menentukan konsekuensi praktis dari masalah-masalah itu, dan bukan memberikan jawaban finalnya.
Salah satu karyanya yang penting dalam bidang psikologi agama, dan juga merupakan karya pertama yang membahas pengalama religius adalah The Varieties of Religious Experience. Buku ini selain membahas permasalahan aktual tentang pengalaman keagamaan dalam kacamata pragmatisme, dan juga pengalamannya sendiri.
Dalam buku ini diceritakan :
Dalam keadaan pesimis dan depresi jiwa mengenai masa depanku, suatu sore aku masuk ke sebuah kamar ganti, dalam keremangan, maksudku hendak mencari sepotong artikel di sana. Secara tiba-tiba, dalam diriku, seolah hadir dari kegelapan, suatu ketakutan mengerikan tentang eksistensiku. Tak terduga, hadir begitu saja dalam benak, seorang penderita epilepsi yang pernah kutemui di sebuah Rumah Sakit. Seorang pemuda berambut hitam dengan kulit kebiru-biruan, dungu, yang setiap hari duduk di salah sebuah bangku, atau sedikit menjauh dari tembok, dengan lutut menopang dagunya. Ia memakai baju dalam yang kumal, satu-satunya pakaian yang dimilikinya. Ia duduk mematung di situ seperti seekor kucing Mesir atau mummi Peru, tanpa gerak, dengan mata hitam, seolah bukan manusia. Bayangan tersebut dan ketakutanku berbaur menjadi satu. Seperti itukah wujudku?
Hari demi hari aku bangun dengan perasaan nyeri di ulu hati, dengan perasaan tidak aman akan hidupku yang tidak pernah diketahui sebelumnya dan tidak pernah dirasakan lagi sesudahnya. Pengalaman itu seakan merupakan suatu pewahyuan. Dan walaupun pengalaman itu telah berlalu, sejak saat itu perasaan tersebut membuat saya simpati terhadap perasaan-perasaan yang mengerikan yang dialami oleh orang lain.
Apa yang disodorkan James dalam memberikan argumentasi khas pragmastime mengenai keyakinan dan pengalaman religus benar-benar sangat cerdas. Dalam The Varities of Religious Experience, ia mengungkapkan bahwa sejauh manusia berhubungan dengan alam semesta, ia hanya berhubungan dengan simbol-simbol realitas, tetapi dalam pengalaman religius yang bersifat pribadi, dirinya benar-benar dibawa masuk dalam realitas tersebut secara utuh. Di sini James menekankan bahwa, yang paling penting bukan pengalamannya, tetapi perubahan nyata dalam hidup yang terjadi setelah pengalaman tersebut. Sederhananya, pengalaman percaya terhadap Tuhan, misalnya, diperlukan sejauh memuaskan kebutuhan-kebutuhan manusia dan membawa dampak yang riil dalam dirinya. Dan dampak yang paling penting adalah meningkatnya kekuatan moral. Tak masalah apakah bukti secara rasional tidak memuaskan tentang keberadan-Nya. Tapi setidaknya keyakinan tersebut membawa dampak positif terhadap tindakan manusia, ia memuaskan hasrat dan kerinduannya, sehingga membawa pada peningkatan kualitas moralitas. Cara pandang yang positif terhadap pengalaman religius dari William James, cukup berpengaruh besar di zaman itu, dan pengaruh tersebut sampai di daratan Eropa, setidaknya bagi para tokoh psikologi kemudian.
Carl Gustav Jung
Pada mulanya ia begitu diharapkan akan meneruskan jejak gurunya, Sigmund Freud, dalam memperkuat teori psikonalisa. Hanya saja, penekanan yang berlebihan terhadap seksualitas sebagai landasan pokok teori Freud, kurang memuaskannya. Tambahan lagi, suatu visi, tepatnya mimpi yang begitu nyata, membuat Jung mulai membuat penafsiran yang berbeda sebagaimana teori mimpi yang dibangun di psikoanalisa.
Pada tahun 1913, sebuah mimpi dialaminya. Ia melihat banjir besar meliputi seluruh daratan Eropa. Bahkan sampai ke wilayah-wilayah pegunungan di Swiss, negerinya sendiri. Ribuan orang tenggelam. Peradaban manusia di ambang kehancuran. Perlahan air bah yang demikian besar tadi berubah menjadi darah. Visi tadi berlanjut beberapa minggu kemudian dengan mimpi musim dingin yang tak pernah berakhir, dan sungai darah di daratan Eropa. Tak lama berselang, di bulan Agustus tahun itu juga, Perang Dunia I dimulai. Jung merasakan bahwa ada suatu keterhubungan antara dirinya sebagai individu dengan peristiwa kemanusiaan secara umum yang tidak bisa dijelaskan.
Semenjak kejadian tersebut sampai tahun 1918 Jung mulai menyusun teorinya sendiri, dan secara resmi ia lepas dari psikoanlisa dan mendirikan mazhab baru yakni psikologi analitis. Kegemarannya akan bahasa dan sastra dari tradisi-tradisi kuno membuat ia bersentuhan dengan agama-agama dan kebudayaan arkaik, yang berpengaruh besar dalam penyusunan teorinya.
Ada kesamaan antara Freud dan Jung dalam beberapa hal, di antaranya konsep ego sebagai komponen kesadaran, dan adanya ketidaksadaran yang mempunyai pengaruh kuat dalam struktur kepribadian. Hanya saja, menurut Jung di alam tak sadar (unconscious) bukanlah murni berisi insting seksual, tapi jusru ada suatu ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) yang berisi arketif-arketif yang diwariskan turun temurun secara ras. Disamping ketidaksadaran kolektif, ada juga ketidaksadaran pribadi, sebagai bentukan dari pengalaman-pengalaman yang pernah sadar tapi direpresikan, dilupakan dan diabaikan, yang suatu waktu bisa muncul kembali ke alam sadar, karena ia memang posisinya cukup dekat dengan ego.
Dalam ketidaksadaran pribadi ini juga ada kompleks-kompleks yang merupakan konstelasi perasaan, pikiran, persepsi-persepsi dan ingatan-ingatan yang memiliki inti yang bersifat seperti magnet yang menarik berbagai pengalaman ke arahnya. Kompleks ini bisa menggeser ego dan mengendalikan kesadaran dari kepribadian manusia.
Ide tentang ketidaksadaran kolektif merupakan suatu yang orisinal, kontroversial sekaligus penting dalam teori psikologi analitis yang dibangun oleh Jung. Ketidaksadaran kolektif adalah gudang memori laten yang diwariskan generasi demi generasi dari masa lampau, yang bersifat universal. Artinya semua manusia mempunyai ketidaksadaran kolektif yang sama. Bersama-sama dengan ketidaksadaran pribadi, mereka mempunyai andil besar dalam struktur kepribadian manusia. Andaikan ego mengabaikan segi ketidaksadaran ini, akan timbul semacam gangguan-gangguan terhadap proses-proses rasional sadar berupa simptom, fobia-fobia, delusi dan irasionalitas.
Kesadaraan kolektif tersusun secara struktural oleh ribuan arketif. Yakni suatu bentuk ide universal yang diwariskan antar generasi. Beberapa arketip berhasil diidentifikasi, yakni anima, animus, persona, shadow, ide orang bijak, pahlawan, Tuhan, iblis, arketif energi dll. Arketif ini suatu waktu terpengaruh oleh daya magnet dari inti kompleks, dan bergerak ke arahnya. Bersama inti kompleks mereka merembesi dan tembus ke alam sadar lewat pengalaman-pengalaman, bentuk ritual agama, mimpi-mimpi, mitos, penglihatan-penglihatan, simptom neurotik dan psikotik, serta karya-karya seni.
Arketif yang cukup penting dalam teori Jung adalah arketif ‘diri’ (Self). Arketipe ini dilambangkan dengan simbol mandala, yakni sekumpulan lingkaran atau bujur sangkar konsentris. Simbol mandala ini ditemukan oleh Jung di hampir semua tradisi dan kebudayaan kuno, di setiap agama, dan setiap mitologi kesukuan. Simbol ini juga hadir, menurut pengamatan Jung, dalam mimpi pada kebanyakan orang yang menginjak usia paruh baya, sekitar 35-40 tahunan.
Diri, menurut Jung merupakan Imago Dei, gambaran Tuhan. Ia merupakan tujuan hidup, yang menggambarkan kebulatan dan keutuhan. Ia adalah komponen pokok dalam realisasi diri. Diri adalah titik pusat kepribadian, yang mempersatukan berbagai segi kepribadian dengan kesatuan, keseimbangan, dan kestabilan.
Perkembangan kepribadian menurut Jung, setidaknya didahului oleh perkembangan dan diferensiasi dari berbagai arketif. Semua arketif harus berkembang secara sempurna, ego sadar harus bisa menyesuaikan diri antara tuntutan lingkungan luar maupun kebutuhan-kebutuhan ketidaksadaran. Keadaan ini berlangsung sampai menginjak usia paruh baya. Pada saat usia 30-an atau 40-an, terjadi perubahan radikal dalam kehidupan. Pada usia inilah, minat dan sesuatu yang dikejar pada masa muda kehilangan nilainya dan diganti oleh minat-minat baru yang lebih berbudaya. Ia menjadi lebih bijak, lebih filosofis dan lebih spiritual. Inilah masa dimana terjadi pergeseran pusat kepribadian dari ego sadar kepada ‘diri’ (Self) yang berada di antara wilayah sadar dan ketidaksadaran. Inilah keadaan ideal, di mana seluruh segi kepribadian dan energi psikis berada dalam keseimbangan daya-daya yang sempurna. Inilah realisasi diri, sebagai tujuan kehidupan manusia.
Apabila kita melukiskan kesadaran dengan ego sebagai titik pusatnya, sebagai lawan dari ketidaksadaran, dan apabila sekarang kita menambahkan pada gambaran jiwa kita proses pengasimilasian ketidaksadaran, maka kita dapat memandang asimilasi ini sebagai semacam aproksimasi antara kesadaran dan ketidaksadaran, di mana pusat seluruh kepribadian tidak lagi terletak pada ego tetapi pada suatu titik tengah antara kesadaran dan ketidaksadaran. Ini akan menjadi titik dari suatu keseimbangan baru, suatu pusat baru dari seluruh kepribadian, suatu pusat sejati yang karena posisinya yang terletak di tengah-tengah kesadaran dan ketidaksadaran, memberikan pada kepribadian suatu fondasi baru yang lebih kokoh (Jung, 1945 hlm. 219)
Stanislav Grof
Risetnya tentang bagaimana membangkitkan kesadaran spiritual, secara kimia (termasuk LSD) cukup terdokumentasi dengan baik, dan dengan standar ilmiah. Konsepnya mengenai “Systems of Condensed Experience” (COEX Systems) kelihatannya mirip dengan konsep arketif dari Jung. Setelah penggunaan LSD dinyatakan ilegal, ia kemudian mengarahkan penelitiannya pada penggunaan terapi musik, latihan olah napas dan meditasi
Barry Mc Waters
Pandangan dan teorinya mengenai manusia sebagai sosok yang multidimensional disajikan berikut ini.
Tiap tingkatan menunjukkan kesadaran diri manusia. Lingkaran 1,2 dan 3 berturut-turut mewakili aspek fisikal, aspek emosional dan aspek intelektual dari energi batin manusia. Lingkaran 4 menunjukkan pengintegrasian antara ketiga lingkaran tersebut yang memungkinkan individu berfungsi secara harmonis pada tingkat pribadi. Keempat lingkaran ini termasuk dalam kawasan personal manusia.
Tingkatan berikutnya termasuk dalam kategori wilayah transpersonal manusia. Lingkaran 5 mewakili aspek intuisi. Pada aspek ini, individu mulai secara samar-samar menyadari bahwa ia bisa mempersepsi tanpa bantuan pancainderanya. Lingkaran 6 mewakili aspek energi psikis, dirinya mulai merasakan integrasi dengan energi yang lebih besar. Fenomena parapsikologi terjadi pada level kesadaran ini. Lingkaran 7 mewakili bentuk penghayatan paling tinggi, yakni penyatuan mistis atau pencerahan, di mana diri seseorang menyatu dengan segala yang ada.
Melewati ketujuh tingkatan kesadaran sebelumnya, maka sampai pada tingkatan pengembangan potensial di mana semua tingkat dihayati secara simultan, terjadinya pengintegrasian antara yang personal dengan yang transpersonal.
Charles T. Tart
Ia dikenal sebagai seorang parapsikologist, yang berusaha memadukan apa yang disebut sebagai pengalaman-pengalaman spiritual (ia menggunakan istilah d-ASC) dengan sains. Seperti ungkapannya: “I have a deep conviction that science, as a method of sharpening and refining knowledge, can be applied to the human experiences we call transpersonal or spiritual, and that both science and our spiritual, and that both science and our spiritual traditions will be enriched as a result”. Lantas ia meletakan dasar-dasar teori untuk pengintegrasian kedua hal tersebut, sembari memaparkan karakteristik keduanya, syarat, kapan dan bagaimana antara spiritual dan sains bisa menyatu.
Manusia, menurut Charles T. Tart, berusaha mendapatkan apa yang disebut d-ASC, sebuah perubahan kesadaran; dimana dirinya merasa terbuka, menyatu dengan alam semesta, ada aliran energi di seluruh tubuhnya, merasakan bahwa dunia adalah satu, penuh cinta, dan waktu seakan berhenti. Hanya saja, beberapa mendapatkannya melalui drugs (LSD, heroin ganja), yang mempunyai dampak kerusakan fisik. Padahal, lagi-lagi menurutnya, ada beberapa teknik non-drugs yang bisa digunakan (semisal meditasi dan ritual-ritual keagamaan lainnya) yang lebih positif.
Sumbangan besar lainnya adalah pemetaan kedudukan dan tingkat kesadaran, yakni :
SoC (State of Consciousness): Apa yang berada dalam pikiran seseorang pada saat tertentu.
ASC ( Altered State of Consciousness): Apa yang dipikirkan sekarang, berbeda (karena ada perubahan objek) dengan apa yang dipikirkan beberapa saat yang lalu.
d-SoC (discrete State of Consciousness): pola yang khas dari fungsi mind. Sebuah objek akan mempunyai banyak d-SoC (pola khas) bergantung kepada cara pandang observer-nya. Paradigma dalam dunia merupakan suatu d-SoC.
d-ASC (discrete Altered State of Consciousness): perubahan radikal dari keseluruhan fungsi berpikir (mind) dan kesadaran, contohnya : mimpi, pengalaman fly (drugs), juga pengalaman-pengalaman spiritual.
Selain itu, ia juga mendefiniskan fenomena-fenomena di luar kondisi psikis yang umum, atau parapsikologi, yakni :
“Parapsychology, literary meaning the investigation of things which are beyond (para) ordinary psychology”.
Adapun fenomena-fenomena parapsikologi adalah sebagai berikut :
1. Telepati : komunikasi langsung mind dengan mind antar manusia.
2. Clairvoyance : kontak langsung dengan objek fisik
3. Precognition : mengetahui kejadian di masa mendatang
4. Psikokinesis : kemampuan mind untuk mempengaruhi benda tanpa kontak fisik
Semua fenomena tersebut di atas mengacu kepada ESP atau extrasensory perception, yang di dunia paranormal dikenal sebagai “Psy Phenomena”.
06 Psikologi Integral
Ken Wilber adalah seorang cendikiawan Buddhis yang merupakan tokoh dan pengagas generasi kelima psikologi : psikologi integral atau psikologi integratif (integrative psychology).
Empat generasi psikologi sebelumnya (psikoanalisa, behavioristik, humanistik, dan transpersonal) dalam pandangan Wilber secara perlahan akan memudar. Tapi bukan berarti tidak memberikan sumbangan besar. Wilber berkeyakinan, apa yang telah dirintis oleh angkatan sebelumnya, dengan satu sisi pendekatan terhadap eksistensi manusia, akan digantikan oleh pendekatan yang multidimensi, yang lebih integratif.
Kritik khusus diarahkan terhadap psikologi transpersonal. Ia sendiri mengakui, bahwa tadinya ia seorang transpersonalist, tapi kemudian di tahun 1983, Ken Wilber mulai merasakan ada suatu yang kurang dalam psikologi generasi keempat ini. Mungkin satu sisi pedekatan saja, yakni pendekatan spiritual, dalam kacamata ilmiah kurang begitu faktual. Para ahli psikologi transpersonal lebih menekankan sisi teori daripada menyodorkan bukti-bukti empiris. Kendati psikologi transpersonal mempunyai area pembahasan yang demikian luas, tapi ia tidak mencakup totalitas, ia tidak berhasil mengintegrasikan teori-teori psikologi sebelumnya.
Psikologi integral dikembangkan oleh Ken Wilber, setelah ia sendiri meneliti dan memelajari beragam teori tentang struktur kedirian manusia, mulai dari pra-modern, modern sampai post-modern. Lebih dari 100 tokoh yang teorinya berhasil ia rangkum dan diintisarikan serta disajikan dalam bentuk teori yang integratif.
Untuk memahami pengertian ‘integral’ seperti apa yang dimaksudkan oleh Wilber, di bawah ini akan disajikan ikhtisar pemikirannya, terutama mengenai Empat Quadran, yang kemudian ia sendiri menamamainya dengan AQAL (All Quadrant All Level).
Psikologi Integral mempunyai setidaknya lima komponen utama, yakni: level (kadang disebut struktur) kesadaran, arus atau deret garis kesadaran, status kesadaran normal dan perubahan status kesadaran, diri dan sistem-diri, serta empat kuadran.
Kepribadian manusia, menurut Wilber, seperti halnya struktur alam semesta, adalah komponen yang berlapis-lapis, pluridimensional, tersusun atas tatanan yang terintegrasi, yang padu dan menyeluruh.
Level Kesadaran
Level kesadaran disebut juga dengan istilah struktur atau gelombang kesadaran, dan terkait dengan definisinya. Struktur mengindikasikan bahwa setiap tingkatan kesadaran mempunyai pola yang padu yang seluruh komponennya bersatu dalam satu struktur besar. Level, berarti pola-pola tersebut mempunyai relasi-relasi yang cenderung terbuka. Artinya tingkat yang lebih tinggi tatkala mentransendensi, juga mencakup dan meliputi tingkat yang berada bawahnya. Sedangkan ‘gelombang’ mengindikasikan bahwa setiap level kesadaran tidak berada tepat duduk di bawah level yang lebih rendah seperti halnya anak tangga, tetapi lebih menyerupai gelombang yang meliputi sekaligus mencakup level sebelumnya.
Dalam struktur kepribadian manusia, evolusi atau perkembangan level kesadaran secara ringkas bisa dibagi dalam tiga tahap : dari level subconscious ke level selfconscious dan ke level superconscious. Sedangkan dalam tradisi hikmah, level-level kesadaran ini bergerak mulai dari level materi, kemudian level pikiran (mind), level jiwa (soul), dan level ruh (spirit). Gradasi dari tingkatan kesadaran ini juga paralel dengan “Hierarki tingkatan Wujud” dalam ontologi tradisi hikmah.
Level paling bawah, subconscious, sangat bersifat insting, libido, impulsif, animal (sifat binatang), kurang lebih sama dengan komponen id dalam psikoanalisa Freud. Level menengah dari kesadaran manusia ditandai dengan sifat-sifat : adaptasi sosial, penyesuaian mental, sifat integrasi dari ego, dan tahap lanjut konsepsi. Sedangkan tahap paling tinggi yang dicapai kesadaran manusia adalah tahap yang sama keadaannya dalam pencapaian puncak spiritual dari agama-agama. Tahap puncak ini ditandai dengan penyatuan kesadaran diri dengan kesadaran semesta, kebahagiaan, ketenangan dan hal-hal yang bersifat holistik, mungkin lebih mirip dengan konsep individuasi dari Jung dan aktualisasi diri dari Maslow.
Lingkaran kehidupan manusia bergerak dari level bawah yaitu level subconscious (instingtual, id-ish, impulsive) ke level menengah atau level self-conscious (egoic, conceptual) kemudian ke level puncak atau level superconscious, digambarkan dalam bentuk lingkaran.
Gambar lingkaran ini dibagi ke dalam dua bagian, busur keluar (outward arc) dan busur ke dalam (inward arc). Pergerakan dari level sub-conscious ke level self-conscious digambarkan dalam bentuk busur keluar. Pergerakan ini ditandai dengan sifat penegasan diri, kisah pertempuran sang ego dengan dirinya sendiri, dan konflik-konflik di bawah sadar yang ditandai dengan rasa cemas dan terasing.
Sedangkan perkembangan kesadaran dari level selfconscious ke level superconscious merupakan pergerakan ke dalam diri, digambarkan dengan busur kedalam (inward arc), ini ditandai dengan pencapaian tahap transendensi dan realisasi diri.
Sebenarnya ada banyak ajuan istilah untuk level tingkat kesadaran ini. Ada yang menyebut hierarki ini dengan prepersonal, personal dan transpersonal. Bahkan dari sisi jumlahnyapun terdapat perbedaan, kendati demikian, sebenarnya tetap dapat diringkas ke dalam tiga tingkatan. Tradisi Kundalini Yoga membagi level kesadaran dalam tujuh tingkatan Chakra, dan tradisi Vedanta dalam lima lapisan yang disebut panca maya kosha.
Sedangkan Ken Wilber sendiri merinci ketiga level kesadaran ini menjadi sembilan level yakni : arkaik, magic, mythic, rasional, aperspectival, psychic (yogic), subtle, causal, dan non-dual.
Arus Kesadaran
Dalam perkembangan level kesadaran, ada aspek-aspek dalam struktur kepribadian yang juga bergerak mengikuti perkembangan dari level kesadaran, tapi dengan tingkat perkembangan yang bervariasi. Aspek-aspek tersebut misalnya intelegensi, kognisi, moral, afeksi, kebutuhan, seksualitas dll. Aspek-aspek tersebut, dinamakan arus kesadaran atau deret garis kesadaran.
Arus kesadaran ini berkembang dengan derajat kebebasan tertentu, meskipun tidak sepenuhnya bebas. Misalnya sesorang pada level atau struktur tertentu, bisa saja mempunyai tingkat kognisi yang optimal, tetapi dari segi moralitas baru mencapai tahap menengah, dan tingkat rendah dalam masalah perkembangan seksualitas. Perkembangan arus kesadaran ini relatif bebas atau tidak mutlak harus bergantung kepada perkembangan level kesadaran. Untuk jelasnya bisa dilihat dalam diagram atau gambar berikut ini.
Status Kesadaran
Beberapa status kesadaran manusia yang biasa dikenal misalnya, terjaga, mimpi, dan tidur pulas. Ini adalah status normal kesadaran yang biasa dialami sehari-hari, disamping ada juga status luar biasa atau perubahan status kesadaran dan merupakan kesadaran yang sifatnya lebih tinggi, yaitu berupa pengalaman puncak (pengalaman spiritual, atau peak experience menurut Maslow), keadaan meditasi dan kontemplasi.
Ada empat jenis status kesadaran yang luar biasa ini, dan disebut juga kesadaran transpersonal, yaitu : psychic, subtle, causal dan nondual. Psychic adalah status kesadaran yang dialami oleh type nature mysticism, yakni pengalaman spiritual seolah-olah dirinya menyatu dengan seluruh sensor alam semesta. Subtle ialah status kesadaran yang dialami oleh type deity mysticism, yakni pengalaman diri yang menyatu dengan sumber, pusat alam semesta. Causal adalah kesadaran yang dialami oleh type formless mysticism, dimana individu yang mengalaminya akan merasakan terhentinya pengalaman dan segenap sensor indrawi, tenggelam dalam keadaan yang tidak mewujud, kesadaran yang tak berbentuk. Jenis pengalaman tipe causal ini misalnya apa yang disebut oleh Patanjali sebagai dharma mega samadhi. Nondual adalah keadaan yang dialami oleh tipe integral mysticism, yakni sebuah pengalaman bersatunya antara yang memanifestasi dan yang tidak, antara wujud dan ketiadaan. Contohnya seperti yang dialami oleh Lady Tsogyal, Sri Ramana Maharshi, dan Hui Neng.
Bagaimanakah hubungan antara status kesadaran ini dengan level kesadaran?
Setiap struktur atau level kesadaran seseorang tentu saja meliputi semua status kesadarannya. Setiap orang pasti akan mengalami status kesadaran yang normal seperti terjaga, mimpi, dan keadaan pulas, tak menjadi masalah dimana level orang tersebut berada. Juga setiap level bisa berada pada status kesadaran yang luar biasa, atau perubahan kesadaran, berupa pengalaman puncak dalam bentuk psychic, subtle, causal, dan nondual. Hanya saja ada perbedaan sikap dan interperstasi terhadap pengalaman tersebut yang bergantung kepada tingkatan level kesadarannya. Umpamanya, dua orang yang berada di level yang berbeda (misalnya antara rational dan psychic) bisa sama-sama mempunyai pengalaman puncak pada status causal, tapi pengaruh (berupa penyikapan dan interpretasinya) dari pengalaman puncak tersebut masing-masing sangat berbeda.
Pengalaman puncak yang dialami oleh orang di semua tingkatan level kesadaran, pada dasarnya bersifat sementara. Pengalaman ini menjadi permanen andaiakata seseorang sudah berada di level tersebut. Umpamanya, orang yang berada di level causal pasti mempunyai pengalaman pada status causal secara permanen, tapi pengalaman puncak yang berada di atasnya, misalnya pada status non-dual, yang ia alami, sifatnya hanyalah sementara atau temporer.
Teknik dan metode dalam mengembangkan level kesadaran, sebenarnya sudah ada dalam praktek-praktek ritual yang dijalankan para pengikut tradisi, yakni melalui meditasi dan kontemplasi.
Diri dan Sistem Diri
Konsep diri (self) yang dipakai oleh Wilber, relatif sama dengan konsep diri yang dipakai oleh Jung, yaitu sebagai suatu arketif yang menjadi titik pusat kepribadian.
Ken Wilber, memandang diri sebagai kompenen utama dalam mengintegrasikan dan menyeimbangkan semua komponen di dalam psyche. Hal yang pertama, dilakukan diri ialah mengenali dan mengidentifikasi level tempat ia berada, lantas setelah itu ia mulai mendiferensiasi (mencoba memisahkan diri dari) level tersebut, dan naik ke level yang lebih tinggi (transendensi). Tahapan terakhir, kemudian ia mengintegrasikan level yang baru dicapainya dengan level-level sebelumnya.
Jadi diri mempunyai tiga tugas pokok, yaitu : identifikasi, diferensiasi (transendensi), dan integrasi. Sehingga pemahaman mengenai psikopatologi ini, berkenaan dengan tugas pokok dari diri dalam menyeimbangkan semua komponen kepribadian. Psikopatologi semestinya dilihat bukan sebagai sebuah keadaan keterpecahan atau pun kerusakan beberapa komponen kepribadian, tapi lebih kepada muncul atau berkembang, serta tidak berkembangnya beberapa komponen tersebut, dan bisa tidaknya “diri” mengintegrasikan dan menyeimbangkannya.
Contoh paling nyata misalnya dalam pasien psikotik. Ia kadang-kadang mengalami pengalaman memasuki alam subtil, yang mana fenomenanya seperti berhalusinasi. Pada dirinya sendiri status alam subtilnya, bukanlah mengalami kerusakan, ia bekerja apa adanya. Masalahnya, diri tidak bisa mengintegrasikannya, yakni antara pengalaman di alam subtil dengan struktur mentalnya (level psychic).
Jadi jika psikopatologi merupakan keadaan saat diri gagal dalam mengidentifikasi level dimana ia berada, gagal dalam mendiferensiasi atau mentransendensi tatkala ia beranjak ke level lebih tinggi, dan kegagalan dalam mengintegrasikan level yang baru dicapai dengan level-level sebelumnya. Dalam skema perkembangan kepribadian yang diajukan Wilber, setidaknya ada sembilan tingkatan atau level, dan pada tiap level, diri memiliki tiga tahapan : identifikasi, transendensi, dan integrasi. Jadi kurang lebih ada 27 jenis psikopatologi yang mungkin terjadi selama proses perkembangan kepribadian.
Pendek kata, diri adalah titik senter gravitasi kepribadian, yang mana semua komponen beredar mengelilinginya. Masalah timbul, andaikata ada beberapa komponen kepribadian yang terlampu cepat atau terlampau lambat berkembang, sehingga mengganggu kecepatan edarnya. Inilah penyebab komponen tersebut keluar dari orbit.
Landasan psikoterapi yang dikembangkan, jika berpijak kepada konsep ini, ialah bagaimana menarik kembali komponen-komponen kepribadian yang berada di luar garis orbitnya, kemudian diri berusaha mengenalinya kembali, dan selanjutnya diintegrasikan dengan seluruh komponen lainnya.
Empat Quadrant
Apa yang telah dipaparkan sebelumnya, mengenai evolusi kepribadian (psyche) dan perkembangan kesadaran (consciousness) hanyalah ditinjau dalam satu perpspektif atau satu pendekatan saja, di antara tiga perspektif lainnya. Psikologi Integral yang diajukan oleh Ken Wilber, berusaha melihat kesadaran manusia dalam berbagai sisi, dari beragam sudut penglihatan. Beragam perspektif dalam melihat kesadaran ini dapat diringkas menjadi empat perspektif. Ini dinamakan sebagai empat quadrant.
Quadrant pertama, kesadaran dilihat dari perspektif ‘aku’ (‘I’). Yaitu melihat kesadaran manusia dari sisi dalam (individual interior). Fenomena dari kesadaran ini, misalnya perasaan dan pikiran kita, sensasi, persepsi, harapan dan rasa takut, dalam setiap momen waktu yang kita lalui. Sedangkan tingkatan atau level dari kesadaran ini, telah dijelaskan sebelumnya, yang meliputi sembilan level, dan dapat diringkas menjadi tiga level : prepersonal, personal, dan transpersonal.
Quadrant kedua, adalah perspektif yang melihat kesadaran sebagai pengaruh dari sisi luar diri (individual eksterior). Faktor luar diri ini misalnya, kesadaran dilihat sebagai produk dari mekanisme otak dan tubuh, sistem neurofisiologi (sistem syaraf), serta sistem organik.
Quadrant ketiga ialah melihat kesadaran dari perspektif kolektif interior. Artinya kesadaran personal sebagai produk interaksi dirinya dengan orang lain dalam sebuah struktur masyarakat, keluarga, korporasi, suku, organisasi, bangsa dan dunia.
Terakhir, quadrant keempat, kesadaran dipandang sebagai produk kolektif eksterior. Faktor yang mempengaruhi kesadaran misalnya berupa infrastruktur, teknologi, ekonomi, informasi, finansial, data-data objektif, dan lain-lain.
Tidak hanya dalam quadrant pertama saja, dimana kesadaran manusia mempunyai level (struktur),arus (garis) dan status-nya, juga ketiga quadrant lainnya, secara umum mempunyai level, arus, dan status. Sehingga pendekatan dalam memahami apa itu kesadaran manusia secara integral, perlu mengkaji beragam pola-pola dan bentuk-bentuk kesadaran dalam semua quadrant. Ini yang kemudian menjadikan psikologi integral dalam pandangan Wilber, bukan lagi sebuah psikologi atau teori tentang kesadaran diri, tapi lebih jauh lagi mengenai kosmos atau kosmologi, teori tentang segala sesuatu (theory of everything), yang kemudian diformulasikan menjadi All Quadrant Qll Level (AQAL).
Jika kita melihat beragam teori mengenai kesadaran manusia, maka akan terlihat bahwa teori-teori yang dibangunnya seringkali terlampau mengedepankan satu perspektif atau satu titik pandang, dan menghilangkan perspektif lainnya.
Psikoanalisa, humanistik, psikologi analitis adalah gambaran teori mengenai kesadaran dalam perspektif individual-interior semata. Sedangkan behaviorisme, psikologi evolusi, cognitive science, adalah ilmu-ilmu yang melihat kesadaran hanya dari perspektif individual-eksterior.
Teori-teori yang dibangun oleh para pelopor post-modernisme, dimana kesadaran manusia dipandang sebagai hasil konstruksi sosial, masyarakat, kultur global, merupakan teori yang dibangun atas satu perspektif saja, yakni dari perspektif kolektif-interior. Kecenderungan kepada perspektif kolektif-eksterior, dapat kita temui dalam beberapa teori yang memandang kesadaran sebagai sejumlah bit sistem jaringan, sebagai benang-benang dalam suatu jaring-jaring kehidupan. Teori ekologi, ekofeminme, neoMarxisme, teori sistem dinamik, teori chaos dan kompleksitas adalah contoh dari perspektif ini.
Apa yang disodorkan teori-teori tersebut di atas, benar dalam perspektifnya sendiri. Di sinilah kemudian Ken Wilber mengemukakan tentang arah psikologi integral yang dibangunnya, yaitu psikologi yang dijangkarkan kepada semua quadrant dan semua level (behavioral, intensional,sosial, dan kultural). Pendekatan dalam psikologi ini, yakni melihat hubungan antara otak dan tubuh dengan pikiran dan kesadaran, dan kemudian menunjukkan semuanya itu sebagai bagian dari realitas sosial dan kultural.
Daftar Putaka
1. Atkinson, Rita. L., et all, Introduction to Psychology, 11th ed, Harcourt Brace & Company
2. Wilber, Ken, Integral Psychology, Shambala, Boston & London, 2000
3. Hall, Calvin S. dkk, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Kanisius, Cetakan kelima, 1995
4. Hall, Calvin S. dkk, Teori-teori Sifat dan Behavioristik, Kanisius, Cetakan kedua, 1995
5. Maslow, Abraham, Psikologi Sains, Teraju, Oktober 2004
6. Tart, Charles T. et. all, Transpersonal Psychologies, Harper & Row Publisher. 1975
7. Keyna, Ruth, Introduction to Indian Philosophy, TATA McGRAW HILL PUBLISHING CO. LTD, 1970
8. Wilber, Ken, The Atman Project, The Theosophical Publishing House, 1980
9. Keraf, Sony, Pragmatisme Menurut William James, Kanisius
10. http://wilber.shambhala.com/html/books/psych_model/, download tahun 2003
11. http://www.ship.edu/~cgboeree , download tahun 2001

